Kamis, 08 Juli 2010
PENGUMUMAN
Assalamualaikum wr wb.
Salam pamuji rahayu katur poro sedulur semua
Bahwa nanti malam.
Pada hari Kamis malam Jum’at tangal 08 Juli 2010 padepokan Jumantoro akan melakukan “Penyelarasan energi dengan cara attunement atau shaktipat jarak jauh dengan memanfaatkan 5 unsur inti alam semesta: angin,air,api,tanah dan emas ” pukul 00.30 malam selama lebih kurang 30 menit dengan kami sebagai transmitter dan anda (pembaca) sebagai receiver. Silahkan bagi Poro kadang sedulur yang berminat menerima penyelarasan energi dari kami agar melakukan langkah langkah berikut:
1. Pada Jam 00.30 Duduk bersila di atas tanah atau ubin kemudian meditasi dan tenangkan fikiran kalau ada tempat di luar rumah atau lapangan.
2. Tarik napas dari hidung kanan keluarkan dari hidung kiri ,Keluar masuknya nafas benar-benar dirasakan adanya energi hidup (atma/chayu/kayu/kayun) sembari mengucap mantra dalam hati/batin saja. Mengucap “hu”/ Allah pada saat nafas ditarik dari puser ke arah ubun-ubun. Lalu mengucap “ya”/hu pada saat keluarnya nafas yakni turunnya nafas dari ubun-ubun ke arah pusar, dengan sugestikan memasukkan Zat Allah/Zat Tuhan.
3. Apapun kata dan bahasa yang digunakan dalam mantra toh tidak ada pengaruh dalam keberhasilan Penyelarasan energy. Letak keberhasilan Penyelarasan energy bukan pada ucapan, namun bagaimana kita harus memahami dan menghayati makna hakekat dari hu – ya, allah – hu, maupun lailah – hailallah. Jangan terjebak oleh rangkaian kata-katanya namun konsentrasi harus di fokuskan kepada getaran Zat Mahamulia. Hu atau ha atau a atau the berarti “sesuatu”, yakni menggambarkan sesuatu yang paling dan maha, tidak lain adalah eksistensi Zat tertinggi yang tanpa nama sebagai tingkat pemahaman akan tataran hakekat Zat.
4. Lalu berdoa agar anda di perkenankan untuk mengakses penyelarasan energi dengan cara attunement atau shaktipat jarak jauh yang kami pancarkan.
5. Sediakan angin,air,api,tanah dan emas ,air putih 1 gelas dan minum setelah penyelarasan energi dengan cara attunement atau shaktipat jarak jauh selesai. (angin alam di luar rumah/lapangan/udara yang kita hirupa apa bila dalam ruangan, api dengan nyalakan 5 lilin boleh merah / putih /di campur, segumpal tanah di bentuk bulat seperti bola tenes/kasti di taruh di atas mankok , emas cincin /gelang taruh di atas mankok )
6. Selama proses penyelarasan energi apabila anda merasakan getaran yang menjalar di sekujur tubuh ikuti saja dan jangan di lawan, karena termasuk proses penyelarasan energy.
Penyelarasan energy ini bisa diikuti oleh siapapun yang berminat, adapun kegunaan nya antara lain:
1. Menambah energi batin
2. Membantu membuka 7 cakra utama kundalini mulai dari cakra dasar sampai ke cakra mahkota dengan memanfaatkan 5 unsur inti alam semesta: angin,air,api,tanah dan emas ”
Demikian pemberitahuan dari kami dan bagi yang belum jelas silahkan menghubungi 0813811391 35 dengan KIAGENG JEMBAR JUMANTORO pada pukul 21.00 wib s/d 22.00 wib.
Note: @: Untuk para pinisepuh mohon bantuan Do’a .Semoga Allah SWT meridhoi Penyelarasan energi dengan cara attunement atau shaktipat jarak jauh dengan memanfaatkan 5 unsur inti alam semesta Bagi poro kadang sedulur yang belum mengikuti penyelarasan silahkan mengikuti penyelarasan daftarkan terlebih dahulu lewat email nama, nama ibu , nama bapak, umur ,alamat .
Silahkan kirim ke alamt email ini : kiagengjembarjumantoro@yahoo.co.id
Semoga bermanfaat
Wassalamualaikum wr wb..
KIAGENG JEMBAR JUMANTORO
(PADEPOKAN JUMANTORO)
MENGENAL 7 CAKRA UTAMA KUNDALINI

MENGENAL 7 CAKRA UTAMA KUNDALINI
Oleh KI AGENG JEMBAR JUMANTORO
Mungkin ada yang bertanya atau belum mengerti apa itu
7 cakra utama kundalini mulai dari cakra dasar sampai ke cakra mahkota
Untuk itu saya akan menjelaskannya sebatas kemampuan saya .
Chakra berfungsi sebagai pintu keluar masuknya energi
eterik dari berbagai lapis tubuh. Apabila sebuah chakra tidak
berfungsi dengan baik, maka energi kotor tidak dapat dipompa keluar
dan energi bersih tidak dapat ditarik masuk. Dengan demikian organ-
organ tubuh di sekitarnya akan mendapat gangguan. Walaupun pada
tubuh terdapat banyak chakra-chakra, tetapi perhatian harus ditujukan
kepada ke 7 chakra utama, chakra lain akan membuka dengan sendirinya.
Ke 7 chakra utama sebagai berikut :
Cakra Dasar terletak di ujung tulang ekor ke 3, dimana chakra iniadalah pusat vitalitas, keinginan untuk hidup dan tubuh fisik.
Warna “cahaya berwarna merah”
• Chakra Sex yang dikenal juga sebagai pusat tubuh emosi, dimana
semua perasaan diproses.
Warna “cahaya berwarna oranye”
• Chakra Pusat diasosiasikan dengan “tubuh mental”, yang
mengontrol seluruh pikiran pendapat dan penilaian.
Warna “cahaya berwarna kuning”
.
• Chakra Jantung sebagai chakra keempat dikenal sebagai pusat
tubuh intuisi, dimana chakra jantung ini adalah pusat dari cinta
kasih, kasih sayang seluruh perasaan yang positif dan halus.
Warna “Cahaya hijau muda atau merah muda. Hijau
muda berfungsi untuk pengobatan, merah muda untuk cinta kasih
dapat digunakan secara bergantian.
• Chakra Tenggorokan sebagai chakra ke-lima,
merupakan pusat
“tubuh atma” yang terletak di tenggorokan di lokasi pita suara,
cahaya yang dipergunakan berwarna “biru laut
• Chakra mata Ketiga (Chakra Ajna) sebagai chakra ke-enam
yang biasa juga disebut “chakra antara kening”, dimana
merupakan pusat “tubuh cahaya atau tubuh monad”.
cahaya berwarna “Lembayung Muda”
• Chakra Mahkota sebagai chakra utama ke-tujuh terletak di puncak
kepala, pada tahun sebelum tahun 1970 jarang disebut karena
sukar sekali dibuka. Dengan terbukanya “Chakra Mahkota Alam
Semesta” antara tahun 1970 maka imbasnya “chakra mahkota”
dapat dibuka dengan sama mudahnya dengan chakra utama yang
lain. Warna “Cahaya Putih” yang terang
Itu yang bisa saya sampaikan mudah-mudahan bisa bermanfaat
Amin
DASAR AGAMA
DASAR AGAMA ITU MENCAKUP EMPAT PERKARA, ENAM PERKARA DAN SEPULUH PERKARA
DASAR AGAMA ini saya dapat dari ustat Fahrudin ,Ref. Abah Miran Ciriu Pabuaran.
Silahkan poro dulur-dulur untuk di renungkan sejenak. Semoga bermanfaat.Monggo di semak sebentar.
A. Jemenengnya Allah SWT ada 4 ( empat ) Perkara :
1. Bismillah
2. Sahadat
3. Sifat Dua Puluh
4. Surah Al-ikhlas ( Kulhu )
B. Enam Perkara merupakan dasar untuk bekal diakhirat
1. TIDAK BETEMU CAHAYA NERAKA
“ Allahumma Robba Jibril Mikail Isrofil Ijroil Warobba Muhammadin SAW Ajri Minannar.”
2. BEBAS NERAKA
“ Allahumma Salim Wabarik Ala Sayyidina Muhammadin Kamala Nihayata Likamalika Adada Kamalihi.”
3. AMAL PERBUATAN
“ Allahumma Salim Wasalim Ala Sayyidina Muhammadin Waala Alihi Wasohbihi Biodadi Majro bihil Gholam .“
4. ALAM AKHIRAT / ALAM KUBUR
DIBUATKAN GEDUNG OLEH ALLAH DIALAM KUBUR
Yang ke empat perintah Allah SWT , Sholat Sunnah awwabin 20 Raka’at ba’da Maghrib antara Is’ya antara Is’ya. Di sambut oleh kanjen Nabi Muhammad enam raka’at tidak disia-sia insya Allah sama.”
5. BISA MENYEBERANG JEMBATAN SIROTOL MUSTAQIM
“ Yang ke lima mengamalkan ayat Mubarok tiap malam atau tiap habis sholat fardhu lima waktu lebih utama ini lolos jembatan sirotol mustaqim.”
6. ALLAH MINTA TIGA PERKARA
Yang ke enam Allah berwasi’at kepada para umatNYA. Siapa yang ingin masuk ke Surga tanpa diundi :
1. Puasa tiga hari setiap bulan. ( Dalam setahun 36 hari )
2. Sholat sunnah Dhuha
3. Sholat sunnah witir
Tiga perkara yang diatas ini termasuk wajib dikerjakan jika ingin masuk surga tanpa diundi.
Ilmu dasar da fardhu jangan sampai lupa shubuh dhuhur ashar maghrib isya dan puasa satu bulan pada bulan Ramadhan maka yang disebut fardhu itu tiang agama maka :
1. Fardu
2. Wajib
3. Sunnah
C. Sepuluh Perkara merupakan tuntunan kita di dunia
1. Tauhid Agama /Dasar Agama, Agama Islam
2. Tanda Agama, Agama Islam
* Akar ( Empat, Enam, Sepuluh perkara )
* Batang ( Sahadat, Sholat )
* Dahan ( Puasa )
* Ranting ( Sodakoh )
* Daun ( Naik Haji )
3. Rukun Islam
* Sahadat
* Sholat
* Puasa
* Zakat
* Naik Haji bagi yang mampu
4. Tanda Islam
Menyerahkan diri ke Islam yakni Taat, bakti menurut perintah yang ditetapkan di agama islam .
5. Syarat Islam
HarusTulus Ikhlas
6. Ngerusak Islam
* Ngomong jangan bohong
* Kawin diluar Nikah
* Membicarakan Kebaikan dan keburukan seseorang
7. Arti Sahadat
* Sahadat Tauhid
* Sahadat Rosul
Kedua sahadat tersebut akan menjadi saksi di alam kubur kita
8. Rukun Sahadat
* Menetapkan Zat Allah berdiri sendiri
* Menetapkan Zat Allah kuasa
* Menetapkan hak Allah berbuat apa ini kuasa
* Menetapkan kebenaran Rosullulloh SAW
9. Kesempurnaan sahadat
Apa yang dibaca kalimah sahadat dari permulaan sampai akhir tanpa ada keraguan.
10. Ngerusak Sahadat
Menyekutukan/ menduakan Allah SWT
Itulah semuanya perihal dasar agama silahkan untuk di amalkan dan di jalankan dengan istiqomah DAN semoga mendapatkan kemudahan dan keberkahan,sehingga ilmu yang kita pelajari tersebut membawa kemanfaatan dunia akhirat.
Amin
Jumat, 16 April 2010
KEJAWEN & LELAKU LELAKU KEJAWEN
Dengan mengucap syukur Alhamdulillah, maka akhirnya tulisan
Kejawen ini dapat terselesaikan.
Terima kasih saya ucapkan kepada para sahabat dan para sesepuh
terkait, yang telah berkenan sepenuh hati membantu memberikan
masukan-masukan, baik nasehat, wejangan, literatur dan karya
kuno yang saya pakai sebagai dasar pijak penulisan makalah ini,
disamping wejangan-wejangan ngelmu yang telah saya terima dari
para bapak ibu spiritual yang amat saya hormati dan junjung
tinggi.
Saya mencoba memakai prinsip sebar ilmu dari eyang Guru
Mbah JOYO KUSUMO, ialah cara penulisannya sedapat mungkin
memakai ilmu barat, yang lazim disebut ILMIAH atau paling sedikit
SEMI ILMIAH. Sedangkan isi intinya tetap berpegang kepada
NGELMU TIMUR, lebih tepatnya NGELMU JAWA / KEJAWEN.
Diharapkan maksud isi tersebut dapat diserap oleh para pembaca
budiman.
Tulisan makalah pertama, banyak dipetik dari PENGETAHUAN
BARAT, yang banyak diwejangkan dan ditulis oleh swargi Guru
tercinta Mbah JOYO KUSUMO.
Hal ini dimaksudkan untuk dapat dimengerti oleh awam masa kini,
yang terlanjur telah dijejali ilmu dunia barat yang rasional ilmiah.
Kemudian tulisan makalah selanjutnya, dipetik asli dari kasanah
NGELMU KEJAWEN, baik dari naskah kuno sebagai literature,
tulisan Kejawen masa kini, maupun wejangan-wejangan Kejawen
dari para guru spiritual tercinta.
Makalah Kejawen ini memang belum lengkap, akan tetapi
dirasakan sudah cukup untuk memberikan INTISARI KANDUNGAN
tentang KEJAWEN.
Semoga tulisan ini berguna bagi kita semuanya. Seluruh alam dan
Semoga semua mahluk hidup damai dan sejah tera.
Amin.
Kiageng Jembar Jumantoro
SEJARAH PERKEMBANGAN
KEPERCAYAAN JAWA
Pada dasarnya, manusia Jawa adalah manusia yang amat
bersifat RELIGIOUS, yang amat percaya bahwa diluar manusia,
terdapat kekuatan atau sesuatu yang mengatur segalanya,
termasuk disini mengatur hidup dan kehidupan manusia.
Perhatian dan rasa hormat yang tiada tara kepada para
leluhur yang telah menghantarkan dan mendasari hidup dan
kehidupan manusia Jawa, mengakibatkan bahwa mereka percaya
ROH PARA LELUHUR tersebut diatas MASIH TETAP
MENJAGA DAN DAPAT DIMINTA PERTOLONGANNYA
didalam mengarungi hidup dan kehidupan manusia
didunia. Kepercayaan terhadap Roh leluhur ini kemudian
menghasilkan kepercayaan khas Jawa yang orang Barat
menamakannya dengan istilah Kepercayaan ANIMISME.
Cara hidup manusia Jawa pada zaman dahulu yang banyak
tergantung kepada ALAM, juga mengakibatkan manusia Jawa amat
percaya akan adanya KEKUATAN-KEKUATAN YANG ADA
DIALAM RAYA, dimana kekuatan-kekuatan tersebut diatas
HARUS DIPUJA untuk dapat DIMINTA PERLINDUNGANNYA
untuk SELAMAT SEJAHTERA dalam mengarungi hidup dan
kehidupannya didunia. Kepercayaan khas Jawa zaman dahulu itu
kemudian disebut oleh orang Barat sebagai Kepercayaan
DINAMISME. DI AWAL PERADAPAN
MANUSIA BERLAKU KONSEP
DETERMINISME LINGKUNGAN KEHIDUPAN MANUSIA AMAT
TERGANTUNG DAN DITENTUKAN OLEH ALAM MANUSIA MERASA
AMAT BERGANTUNG PADA KERAMAHAN ALAM, DAN SEKALIGUS
MERASA AMAT KECIL HIDUP DIALAM RAYA INI.
TIMBUL ORIENTASI MANUSIA KEARAH DUA HUBUNGAN ALAMI :
1). HUBUNGAN KOSMIS ialah hubungan manusia
dengan alam semesta (matahari, bulan, bintang, dst).
2). HUBUNGAN CHTONIS Hubungan manusia
dengan bumi (gunung, laut, pohon, batu dst).
HUBUNGAN ANTARA MANUSIA DENGAN LINGKUNGAN DAN
AKHIRNYA MENJADI DASAR KEHIDUPAN MANUSIA JAWA
MASA LALU.
Kepercayaan ANIMISME & DINAMISME inilah yang kemudian
dipercaya oleh para ilmuwan sebagai KEPERCAYAAN ASLI
MANUSIA JAWA.
Kedatangan para saudagar dari tanah Hindustan, yang
membawa serta agamanya yang disebut Agama HINDU dan
Agama BUDHA, amat sangat berpengaruh terhadap kepercayaan
asli manusia Jawa (animisme dan dinamisme). Kedua agama ini
banyak melengkapi perbendaharaan pengetahuan RELIGIOUS yang
belum dikenal pada saat animisme dan dinamisme dianut.
Agama Hindu, mengenalkan adanya nama-nama para
DEWA penguasa dan pelindung kekuatan-kekuatan alam.
Metoda-metoda untuk melakukan sembah bakti kepada
YANG LEBIH BESAR, AGUNG, BERKUASA daripada manusia,
menjadi LEBIH BERVARIASI.
Agama Budha mengenalkan cara untuk PENYATUAN MANUSIA
DENGAN ALAM dan CARA MENCARI DIRI SENDIRI dengan
METODA SAMADI nya dan lain-lain.
Kedatangan para penjelajah Tionghoa yang membawa
serta kepercayaan TAO & KONG HU CU, turut serta menambah
perbendaharaan kepercayaan Jawa Asli yang telah ada.
Kedatangan para pedagang Persia yang juga membawa
masuk AGAMA ISLAM, (khususnya Tasauf Islam) kemudian
melengkapi pengetahuan religious manusia Jawa pada umumnya.
![]()
![]()
![]()
Begitu pula kedatangan para pedagang Barat, yang
membawa serta agama NASRANI, juga melengkapi
perbendaharaan kepercayaan asli Jawa tersebut diatas.
“Perpaduan” dari bermacam kepercayaan dan agama
tersebut diataslah yang kemudian membentuk suatu kepercayaan
Khas Jawa, atau dapat pula disebut AGAMA JAWA dan
sekaligus PEGANGAN HIDUP MANUSIA JAWA, yang kini
dikenal dengan nama JAVANISME atau JAWAISME, atau
KEBATINAN.
Agama Asli Jawa yang ada, dapat menyatu dan memetik hal-
hal baru dari kepercayaan dan agama lain, karena pada
hakekatnya kepercayaan Jawa selalu BERORIENTASI
KEPADA INTI SARI RELIGI, sehingga BEBAS MEMETIK TANPA
KEHILANGAN JATIDIRINYA.
JAWAISME / JIWO JAWI / FILSAFAH
JAWA
1. FILSAFAH
FILSAFAH ADALAH PENGALAMAN BATIN BANYAK
ORANG, yang kemudian MENJADI SIKAP HIDUP.
FILSAFAH JAWA ADALAH PIKIRAN DASAR
ORANG JAWA YANG TUMBUH SEJAK DAHULUKALA, DAN
MENJADI SIKAP HIDUP BERSAMA.
Ahli Barat, menamakannya :
- THE JAVANESE COLLECTIVE THOUGHT
- THE JAVANESE RELIGIOUS ATTITUDE
- THE RELIGION OF JAVA
![]()
Prosesnya mulai dizaman hidup menetap (SEDENTAIR)
terkumpul bebagai pengalaman : fisik, social mental, spiritual,
supranatural Bertumbuh akumulatif, makin disadari,
akhirnya menjadi milik batin.
Berguna untuk : a. Memperluas kesadaran
b. Mempertajam kecerdasan
c. Memupuk persatuan dan kesatuan
d. Mendasari perkembangan selanjutnya
Menggunakannya lewat :
a. KEBERATURAN MENYELURUH, yang disebut ORDE (HUKUM
MANU).
b. PRANGKAT KEBERSAMAAN (TRADISI).
c. USAHA-USAHA FORMAL DAN INFORMAL (PENDIDIKAN).
2. FILOSOFI
FILSAFAH berbeda dengan FILOSOFI, dimana arti dari Filosofi
adalah hasil cipta / temuan para ahli, dari pengalaman
pribadi Yang disusun secara logis – rapi – teliti
– ilmiah atau dapat dikatakan dengan bahasa lain, ialah
“Kerangka pikiran ilmiah yang dibuat oleh orang-orang
pintar, dengan tujuan untuk MENUNJUKKAN JALAN
MENUJU KE KEBIJAI’AN”.
Jadi dapat disimpulkan bahwa pengertian dari FILSAFAH adalah
“SIKAP HIDUP KOLEKTIF, BERTUMBUH LEWAT EVOLUSI,
SELALU TERUS MENGALIR TANPA HENTI, PENGARAH
HIDUP BERSAMA”.
Sedang FILOSOFI adalah “KERANGKA PIKIR YANG DIGUBAH
OLEH SARJANA/SUJANA, MENDAPAT PENGANUT DARI
MEREKA YANG MENGERTI, MENYETUJUI MENJADI
ELITE”
![]()
![]()
3. TASYAUF, SYFISME
Merupakan bentuk Filosofi, khusus dalam AGAMA ISLAM.
Dengan paugeran Dhalil – Kadis – Ijemak – Kiyas. Yang
menjadi inti permasalahan adalah : TAREKAT – HAKEKAT –
MAKRIPAT.
4. SULUK, WIRID, WEJANGAN KEJAWEN
Merupakan Filsafah Jawa YANG DIGUBAH SECARA RAPI,
TETAPI TIDAK ASLI LOGIKA, TERKOMBINASI RASA, yang
mengandung getaran : WINGIT LUNGIT. Pada umumnya
kemudian disebut dengan istilah KABATOSAN / KEBATINAN.
Tetapi BUKAN ALIRAN – BUKAN ILMU.
Kemudian dinamakan NGELMU, yang artinya “ANGELE YEN
KETEMU”, karena “KUDU NGANGGO LAKU”.
PUCUNG :
NGELMU IKU KALAKONE KANTI LAKU (Ngelmu itu dapat terkuasai
hanya dengan dilaksanakan)
LEKASE LAWAN KHAS (Dasarnya melalui Khas)
TEGESE KHAS NYANTOSANI (Dimana arti Khas adalah Semangat
baja)
SEDYO BUDYO (Dengan maksud dan tujuan)
PANGEKESE DURHANGKORO Menghilangkan angkara murka)
KINANTI:
MANGKA TA KANG ARAN LAKU (Yang disebut pelaksanaan)
LAKUNE NGELMU SEJATI (Pelaksanaan dari Ngelmu yang
sebenarnya)
TAN DAHWEN PATI OPEN (Tidak menggangu kepentingan lain
orang)
TAN PANASTEN, NORA JAHIL (Tidak gampang marah dan jahil)
![]()
![]()
![]()
TAN NJURUNGI MRING KAHARDAN (Tidak senang dan membantu
angkara murka)
HAMUNG HENENG MAMRIH HENING (Hanya lah diam untuk
mencapai keheningan)
Kamis, 16 Juli 2009
SEJATINYA GURU SEJATI
Assalamu’alaikum Wr.Wb
Guru Sejati, dan Sedulur Papat Lima Pancer
HAKEKAT GURU SEJATI
Kembali pada pembahasan Guru Sejati. Melalui 3 langkahnya (Triwikrama) Dewa Wishnu (Yang Hidup), mengarungi empat macam zaman (kertayuga, tirtayuga, kaliyuga, dwaparayuga), lalu lahirlah manusia dengan konstruksi terdiri dari fisik dan metafisik di dunia (zaman mercapada). Fisik berupa jasad atau raga, sedangkan metafisiknya adalah roh beserta unsur-unsur yang lebih rumit lagi. Ilmu Jawa melihat bahwa roh manusia memiliki pamomong (pembimbing) yang disebut pancer atau guru sejati. Pamomong atau Guru Sejati berdiri sendiri menjadi pendamping dan pembimbing roh atau sukma. Roh atau sukma di siram “air suci” oleh guru sejati, sehingga sukma menjadi sukma sejati. Di sini tampak Guru sejati memiliki fungsi sebagai resources atau sumber “pelita” kehidupan. Guru Sejati layak dipercaya sebagai “guru” karena ia bersifat teguh dan memiliki hakekat “sifat-sifat” Tuhan (frekuensi kebaikan) yang abadi konsisten tidak berubah-ubah (kang langgeng tan owah gingsir). Guru Sejati adalah proyeksi dari rahsa/rasa/sirr yang merupakan rahsa/sirr yang sumbernya adalah kehendak Tuhan; terminologi Jawa menyebutnya sebagai Rasa Sejati. Dengan kata lain rasa sejati sebagai proyeksi atas “rahsaning” Tuhan (sirrullah). Sehingga tak diragukan lagi bila peranan Guru Sejati akan “mewarnai” energi hidup atau roh menjadi energi suci (roh suci/ruhul kuddus). Roh kudus/roh al quds/sukma sejati, telah mendapat “petunjuk” Tuhan –dalam konteks ini hakikat rasa sejati– maka peranan roh tersebut tidak lain sebagai “utusan Tuhan”. Jiwa, hawa atau nafs yang telah diperkuat dengan sukma sejati atau dalam terminologi Arab disebut ruh al quds. Disebut juga sebagai an-nafs an-natiqah, dalam terminologi Arab juga disebut sebagai an-nafs al-muthmainah, adalah sebagai “penasihat spiritual” bagi jiwa/nafs/hawa. Jiwa perlu di dampingi oleh Guru Sejati karena ia dapat dikalahkan oleh nafsu yang berasal dari jasad/raga/organ tubuh manusia. Jiwa yang ditundukkan oleh nafsu hanya akan merubah karakternya menjadi jahat.
Menurut ngelmu Kejawen, ilmu seseorang dikatakan sudah mencapai puncaknya apabila sudah bisa menemui wujud Guru Sejati. Guru Sejati benar-benar bisa mewujud dalam bentuk “halus”, wujudnya mirip dengan diri kita sendiri. Mungkin sebagian pembaca yang budiman ada yang secara sengaja atau tidak pernah menyaksikan, berdialog, atau sekedar melihat diri sendiri tampak menjelma menjadi dua, seperti melihat cermin. Itulah Guru Sejati anda. Atau bagi yang dapat meraga sukma, maka akan melihat kembarannya yang mirip sukma atau badan halusnya sendiri. Wujud kembaran (berbeda dengan konsep sedulur kembar) itu lah entitas Guru Sejati. Karena Guru Sejati memiliki sifat hakekat Tuhan, maka segala nasehatnya akan tepat dan benar adanya. Tidak akan menyesatkan. Oleh sebab itu bagi yang dapat bertemu Guru Sejati, saran dan nasehatnya layak diikuti. Bagi yang belum bisa bertemu Guru Sejati, anda jangan pesimis, sebab Guru Sejati akan selalu mengirim pesan-pesan berupa sinyal dan getaran melalui Hati Nurani anda. Maka anda dapat mencermati suara hati nurani anda sendiri untuk memperoleh petunjuk penting bagi permasalahan yang anda hadapi.
Namun permasalahannya, jika kita kurang mengasah ketajaman batin, sulit untuk membedakan apakah yang kita rasakan merupakan kehendak hati nurani (kareping rahsa) ataukah kemauan hati atau hawa nafsu (rahsaning karep). Artinya, Guru Sejati menggerakkan suara hati nurani yang diidentifikasi pula sebagai kareping rahsa atau kehendak rasa (petunjuk Tuhan) sedangkan hawa nafsu tidak lain merupakan rahsaning karep atau rasanya keinginan.
Sarat utama kita bertemu dengan Guru Sejati kita adalah dengan laku prihatin; yakni selalu mengolah rahsa, mesu budi, maladihening, mengolah batin dengan cara membersihkan hati dari hawa nafsu, dan menjaga kesucian jiwa dan raga. Sebab orang yang dapat bertemu langsung dengan Guru Sejati nya sendiri, hanyalah orang-orang yang terpilih dan pinilih.
SEDULUR; PAPAT KEBLAT, LIMA PANCER
Atau Keblat Papat,Lima Pancer, di lain sisi diartikan juga sebagai kesadaran mikrokosmos. Dalam diri manusia (inner world) sedulur papat sebagai perlambang empat unsur badan manusia yang mengiringi seseorang sejak dilahirkan di muka bumi. Sebelum bayi lahir akan didahului oleh keluarnya air ketuban atau air kawah. Setelah bayi keluar dari rahim ibu, akan segera disusul oleh plasenta atau ari-ari. Sewaktu bayi lahir juga disertai keluarnya darah dan daging. Maka sedulur papat terdiri dari unsur kawah sebagai kakak, ari-ari sebagai adik, dan darah-daging sebagai dulur kembarnya. Jika ke-empat unsur disatukan maka jadilah jasad, yang kemudian dihidupkan oleh roh sebagai unsur kelima yakni pancer. Konsepsi tersebut kemudian dihubungkan dengan hakekat doa; dalam pandangan Jawa doa merupakan niat atau kebulatan tekad yang harus melibatkan unsur semua unsur raga dan jiwa secara kompak. Maka untuk mengawali suatu pekerjaan disebut dibutuhkan sikap amateg aji (niat ingsun) atau artikulasi kemantaban niat dalam mengawali segala sesuatu kegiatan/rencana/usaha). Itulah alasan mengapa dalam tradisi Jawa untuk mengawali suatu pekerjaan berat maupun ringan diawali dengan mengucap; kakang kawah adi ari-ari, kadhangku kang lahir nunggal sedino lan kadhangku kang lahir nunggal sewengi, sedulurku papat kiblat, kelimo pancer…ewang-ewangono aku..saperlu ono gawe ….
MENGOLAH GURU SEJATI
Guru Sejati yakni rahsa sejati; meretas ke dalam sukma sejati, atau sukma suci, kira-kira sepadan dengan makna roh kudus (ruhul kudus/ruh al quds). Kita mendayagunakan Guru Sejati kita dengan cara mengarahkan kekuatan metafisik sedulur papat (dalam lingkup mikrokosmos) untuk selalu waspada dan jangan sampai tunduk oleh hawa nafsu. Bersamaan menyatukan kekuatan mikrokosmos dengan kekuatan makrokosmos yakni papat keblat alam semesta yang berupa energi alam dari empat arah mata angin, lantas melebur ke dalam kekuatan pancer yang bersifat transenden (Tuhan Yang Mahakuasa). Setiap orang bisa bertemu Guru Sejatinya, dengan syarat kita dapat menguasai hawa nafsu negatif; nafsu lauwamah (nafsu serakah; makan, minum, kebutuhan ragawi), amarah (nafsu angkara murka), supiyah (mengejar kenikmatan duniawi) dan mengapai nafsu positif dalam sukma sejati (al mutmainah). Sehingga jasad dan nafs/hawa nafsu lah yang harus mengikuti kehendak sukma sejati untuk menyamakan frekuensinya dengan gelombang Yang Maha Suci. Sukma menjadi suci tatkala sukma kita sesuai dengan karakter dan sifat hakekat gelombang Dzat Yang Maha Suci, yang telah meretas ke dalam sifat hakekat Guru Sejati. Yakni sifat-sifat Sang Khaliq yang (minimal) meliputi 20 sifat. Peleburan ini dalam terminologi Jawa disebut manunggaling kawula-Gusti.
Tradisi Jawa mengajarkan tatacara membangun sukma sejati dengan cara ‘manunggaling kawula Gusti’ atau penyatuan/penyamaan sifat hakikat makhluk dengan Sang Pencipta (wahdatul wujud). Sebagaimana makna warangka manjing curiga; manusia masuk kedalam diri “Tuhan”, ibarat Arya Sena masuk kedalam tubuh Dewaruci. Atau sebaliknya, Tuhan menitis ke dalam diri manusia; curigo manjing warongko, laksana Dewa Wishnu menitis ke dalam diri Prabu Kreshna.
Sebagai upaya manunggaling kawula gusti, segenap upaya awal dapat dilakukan seperti melalui ritual mesu budi, maladihening, tarak brata, tapa brata, puja brata, bangun di dalam tidur, sembahyang di dalam bekerja. Tujuannya agar supaya mencapai tataran hakekat yakni dengan meninggalkan nafsul lauwamah, amarah, supiyah, dan menggapai nafsul mutmainah. Kejawen mengajarkan bahwa sepanjang hidup manusia hendaknya laksana berada dalam “bulan suci Ramadhan”. Artinya, semangat dan kegigihan melakukan kebaikan, membelenggu setan (hawa nafsu) hendaknya dilakukan sepanjang hidupnya, jangan hanya sebulan dalam setahun. Selesai puasa lantas lepas kendali lagi. Pencapaian hidup manusia pada tataran tarekat dan hakikat secara intensif akan mendapat hadiah berupa kesucian ilmu makrifat. Suatu saat nanti, jika Tuhan telah menetapkan kehendakNya, manusia dapat ‘menyelam’ ke dalam tataran tertinggi yakni makna kodratullah. Yakni substansi dari manunggaling kawula gusti sebagai ajaran paling mendasar dalam ilmu Kejawen khususnya dalam anasir ajaran Syeh Siti Jenar. Manunggling Kawula Gusti = bersatunya Dzat Pencipta ke dalam diri mahluk. Pancaran Dzat telah bersemayan menerangi ke dalam Guru Sejati, sukma sejati.
TANDA PENCAPAIAN SPIRITUALITAS TINGGI
Keberhasilan mengolah Guru Sejati, tatarannya akan dapat dicapai apabila kita sudah benar-benar ‘lepas’ dari basyor atau raga/tubuh. Yakni jiwa yang telah merdeka dari penjajahan jasad. Bukan berarti kita harus meninggalkan segala kegiatan dan aktivitas kehidupan duniawi, itu salah besar !! Sebaliknya, kehidupan duniawi menjadi modal atau bekal utama meraih kemuliaan baik di dunia maupun kelak setelah ajal tiba. Maka seluruh kegiatan dan aktivitas kehidupan duniawi sudah tidak dicemari oleh hawa nafsu. Kebaikan yang dilakukan tidak didasari “pamrih”; sekalipun dengan mengharap-harap iming-iming pahala-surga, atau takut ancaman dosa-neraka. Melainkan kesadaran makrokosmos dan mikrokosmos akan kodrat manusia sebagai makhluk Tuhan, hendaklah memposisikan diri bukan sebagai seteruNya, tetapi sebagai “sekutuNya”, sepadan dan merasuk ke dalam gelombang Ilahiah. Kesadaran spiritual bahwa kemuliaan hidup kita apabila kita dapat bermanfaat untuk kebaikan bagi sesama tanpa membeda-bedakan masalah sara. Orang yang memiliki kesadaran demikian, hakekat kehendaknya merupakan kehendak Tuhan. Apa yang dikatakan menjadi terwujud, setiap doa akan terkabul. Ucapannya diumpamakan “idu geni” (ludah api) yang diucapkan pasti terwujud. Kalimatnya menjadi “Sabda Pendita Ratu”, selalu menjadi kenyataan.
Selain itu, tataran tinggi pencapaian “ilmu batin/spiritual” dapat ditandai apabila kita dapat menjumpai wujud “diri” kita sendiri, yang tidak lain adalah Guru Sejati kita. Lebih dari itu, kita dapat berdialog dengan Guru Sejati untuk mendengarkan nasehat-nasehatnya, petuah dan petunjuknya. Guru sejati berperan sebagai “mursyid” yang tidak akan pernah bicara omong kosong dan sesat, sebab Guru Sejati sejatinya adalah pancaran dari gelombang Yang Maha Suci. Di sana lah, kita sudah dekat dengan relung ’sastra jendra hayuning rat’ yakni ilmu linuwih, “ibu” dari dari segala macam ilmu, karena mata (batin) kita akan melihat apa-apa yang menjadi rahasia alam semesta, sekalipun tertutup oleh pandangan visual manusia maupun teknologi.
Tanda-tanda pencapaian itu antara lain, kadang seseorang diizinkan Tuhan untuk mengetahui apa yang akan terjadi di masa mendatang, melalui vision, mimpi, maupun getaran hati nurani. Semua itu dapat merupakan petunjuk Tuhan. Maka tidak aneh apabila di masa silam nenek moyang kita, para leluhur bumi nusantara yang memperoleh kawaskitan, kemudian menuangkannya dalam berbagai karya sastra kuno berupa; suluk, serat, dan jangka atau ramalan (prediksi). Jangka atau prediksi diterima oleh budaya Jawa sebagai anugerah besar dari Tuhan, terkadang dianggap sebagai peringatan Tuhan, agar supaya manusia dapat mengkoreksi diri, hati-hati, selalu eling-waspadha dan melakukan langkah antisipasi.
PENTINGKAH GURU SEJATI ?
Peran Guru Sejati sudah jelas saya paparkan di awal pembahasan ini. Namun demikian perlu kami kemukakan betapa pentingnya Guru Sejati dalam kehidupan kita yang penuh ranjau ini. Perahu kehidupan kita berlabuh dalam samudra kehidupan yang penuh dengan marabahaya. Kita harus selalu eling dan waspadha, sebab setiap saat kemungkinan terburuk dapat menimpa siapa saja yang lengah. Guru Sejati akan selalu memberi peringatan kepada kita akan marabahaya yang mengancam diri kita. Guru Sejati akan mengarahkan kita agar terhindar dari malapetaka, dan bagaimana jalan keluar harus ditempuh. Karena Guru Sejati merupakan entitas zat atau energi kebaikan dari pancaran cahaya Illahi, maka Guru Sejati memiliki kewaskitaan luarbiasa. Guru Sejati sangat cermat mengidentifikasi masalah, dan memiliki ketepatan tinggi dalam mengambil keputusan dan jalan keluar. Biasanya Guru Sejati “bekerja” secara preventif antisipatif, membimbing kita agar supaya tidak melangkah menuju kepada hal-hal yang akan berujung pada kesengsaraan, malapetaka, atau musibah.
ANASIR ASING
Konsep tentang guru sejati sebagaimana ajaran Jawa, dapat ditelusuri melalui konsep sedulur papat lima pancer, dalam konsep pewayangan yang makna dan hakikatnya dapat dipelajari sebagaimana tokoh dalam Pendawa Lima (lihat dalam tulisan Pusaka Kalimasadha). Namun demikian, dalam perjalanannya mengalami pasang surut dan proses dialektika dengan anasir asing yakni; Hindu, Budha, Arab. Leluhur bangsa kita memiliki karakter selalu positif thinking, toleransi tinggi, andap asor. Sehingga nenek moyang kita, para leluhur yang masih peduli dengan kearifan lokal, secara arif dan bijaksana mereka tampil sebagai penyelaras sekaligus cagar kebudayaan Jawa. Setelah Islam masuk ke Nusantara, ajaran Kejawen mendapat anasir Arab dan terjadi sinkretisme, sedulur papat keblat kemudian diartikan pula sebagai empat macam nafsu manusia yakni nafsu lauwamah (biologis), amarah (angkara murka), supiyah (kenikmatan/birahi/psikologis), dan mutmainah (kemurnian dan kejujuran). Sedangkan ke lima yakni pancer diwujudkan dalam dimensi nafsu mulhimah (sebagai pengendali utama atau tali suh atas keempat nafsu sebelumnya. Konvergensi antara Kejawen dengan tradisi Arab disusunlah klasifikasi sifat-sifat nafsu jasadiah di atas dengan diaplikasikan ke dalam lambang aslinya yakni tokoh wayang; 1. Lauwamah = Dosomuko, 2. Amarah = Kumbokarno, 3. Supiyah = Sarpo Kenoko, 4. Mutma’inah = Gunawan Wibisono.
Wassalamu’alaikum Wr.Wb
